“Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu”
“Jalan pintas” atau “budaya instant” rasanya menjiwai cukup banyak orang Indonesia , entah secara pribadi maupun organisatoris. Anak-anak sekolah, pelajar atau mahasiswa tidak atau jarang belajar tetapi ingin cepat lulus, maka lalu menyontek; muda-mudi ingin cepat-cepat menikmati hubungan seks sehingga ketika hamil lalu menggugurkan; ingin cepat makan atau minum maka pilih makanan atau minuman dalam kemasan, padahal belum tentu sehat, maka mudah sakit-sakitan; ingin segera memperoleh masukan atau pendapatan besar, maka tambang atau hutan dijual, dst.. Dampak dari semuanya itu antara lain nampak dalam (1) aneka kekayaan tambang dikuasai oleh perusahaan luar negeri dan bangsa Indonesia menjadi penonton, (2) tiadanya penghargaan terhadap penelitian-peneliti an dari pemerintah, maka para peneliti mencari sponsor beaya dari luar negeri dan dengan demikian hasil penelitian yang terjadi di Indonesia,yang pertama-tama menikmati dan memanfaatkan adalah para sponsor dari luar negeri, dst.. Karena kita kurang berani mengelola dan mengurus sendiri aneka macam kekayaan alam dan bumi maupun para pakar ilmu pengetahuan, maka aneka kekayaan alam dan bumi serta keterampilan para pakar ilmu pengetahuan ‘diambil dari tengah-tengah kita dan dinikmati oleh orang lain’. Kiranya cukup banyak pakar/ahli aneka ilmu pengetahuan, para sarjana atau doktor, karena kurang dihargai bekerja di dalam negeri maka mereka lebih senang atau memilih bekerja di luar negeri.
“Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu” (Mat 21:42 -43)
Cara berpikir atau paradigma manusia memang berbeda atau bahkan sering berlawanan dengan ‘cara berpikir atau paradigma’ Tuhan. Apa yang dinilai remeh, rendah atau tak berarti dalam hidup biasa di ‘mata dunia’ atau orang yang bersikap mental materialistis adalah sangat berarti atau bermakna di dalam Tuhan. Kebenaran ini antara lain dapat dicermati di masa Libur Idul Fitri/Lebaran yang baru berlalu atau masih berlangsung saat ini, dimana para pembantu rumah tangga atau buruh dan tenaga kasar minta cuti untuk mudik. Anggota keluarga harus kerja keras untuk mengurus kebutuhan rumah tangga atau keluarga, seperti kebersihan, cucian dst.. atau terpaksa membayar mahal tenaga pengganti di masa libur ini. Berbagai sarana permainan anak-anak dan kebutuhan rumah tangga berantakan gara-gara tidak ada pembantu. Perusahaan-perusaha an dan aneka usaha produksi tutup, tidak berjalan dan berdampak pada kenaikan harga kebutuhan pokok dll.. Dalam kesempatan dan pengalaman macam itu kiranya kita merasakan betapa pentingnya peran pembantu rumah tangga atau buruh dan tenaga kasar di dalam hidup sehari-hari.
“Batu penjuru” adalah penopang kekuatan sebuah bangunan, yang diletakkan di dasar bangunan, di dalam tanah dan kiranya tidak kelihatan . Hidup bersama kita, entah di dalam keluarga, masyarakat maupun tempat kerja bagaikan ‘bangunan’ , maka marilah mawas diri: ‘siapa atau apa’ yang menjadi ‘batu penjuru’ hidup bersama bagi kita. Kalau kita cermati hidup bersama kita kiranya yang menjadi ‘batu penjuru’ adalah cintakasih, yang harus dihayati dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan atau tenaga. Bukankah para pembantu rumah tangga atau buruh atau pekerja kasar yang baik dari kelemahan dan kerapuhannya telah menghayati cintakasih itu dalam kerja dan pelayanannya? Maka kami berharap dan menghimbau kepada kita semua untuk menghargai dan memperhatikan para pembantu rumah tangga, buruh atau pekerja kasar sebaik mungkin. Marilah kita lihat dan akui aneka macam keajaiban yang terjadi dalam kinerja dan pelayanan para pembantu rumah tangga, buruh atau tenaga kasar, yang berjasa berpartisipasi membangun dan merawat bangunan, entah bangunan phisik seperti gedung-gedung tinggi atau keluarga dan kantor yang cukup besar secara diam-diam.
“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu “(Flp 4:6-8)
Kita semua dipanggil untuk berpikir dengan penuh syukur tentang semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji. Rasanya apa yang kita pikirkan kemudian pasti akan kita lakukan atau usahakan, dan dengan demikian mempengaruhi atau menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita di manapun dan kapanpun. Kami berharap dan menghimbau agar kebiasaan cara berpikir yang demikian itu terjadi dan hidup di dalam keluarga, yang menjadi sel atau inti dan dasar hidup bersama bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Jangan remehkan dan pandang rendah panggilan hidup berkeluarga. Ingat dan kenangkan, lebih-lebih bagi para suami dan isteri, ketika anda berdua masih dalam masa pacaran atau tunangan; rasa apa yang diserukan Paulus di atas untuk memikirkan semua yang benar, semua yang mulia, dst.. pernah terjadi dan hidup dalam diri anda berdua. Maka hendaknya cara berpikir itu terus diperdalam, dikembangkan dan disebarluaskan di dalam hidup berkeluarga.
Berpikir tentang semua yang benar, semua yang mulia dst..rasanya juga pernah dialami oleh semua ‘calon’, entah calon pelajar/mahasiswa, calon pegawai/pekerja, calon imam/bruder/ suster, calon pejabat atau kepala daerah atau pemimpin, dst.. Dengan kata lain kita semua telah memiliki pengalaman memikirkannya serta mengusahakannya, maka hendaknya jangan berhenti berpikir tentang semua yang benar. semua yang mulia, dst.. dalam tugas pekerjaan dan panggilan atau jabatan dan fungsi yang anda miliki saat ini. Kita semua dipanggil untuk menghayati impian Yesaya ini: “Aku hendak menyanyikan nyanyian tentang kekasihku, nyanyian kekasihku tentang kebun anggurnya: Kekasihku itu mempunyai kebun anggur di lereng bukit yang subur.Ia mencangkulnya dan membuang batu-batunya, dan menanaminya dengan pokok anggur pilihan; ia mendirikan sebuah menara jaga di tengah-tengahnya dan menggali lobang tempat memeras anggur; lalu dinantinya supaya kebun itu menghasilkan buah anggur yang baik, tetapi yang dihasilkannya ialah buah anggur yang asam.”(Yes 5:1-2)
Kita semua adalah yang terkasih dan dengan demikian yang lain, siapapun adalah ‘kekasihku’. Marilah hidup hidup saling mengasihi agar cara hidup dan cara bertindak kita ‘menghasilkan buah anggur yang baik’, apa-apa yang baik sehingga kita semua di dalam keadaan baik, sehat wa’afiat dan segar bugar baik secara phisik maupun spiritual, cerdas beriman. Allah telah menciptakan bumi seisinya dalam keadaan baik adanya, maka marilah bumi dan segala isinya kita rawat dan kelola atau urus sebaik mungkin demi kebahagiaan dan kesejahteraan seluruh umat manusia di bumi ini.
“Mengapa Engkau melanda temboknya, sehingga ia dipetik oleh setiap orang yang lewat? Babi hutan menggerogotinya dan binatang-binatang di padang memakannya. Ya Allah semesta alam, kembalilah kiranya, pandanglah dari langit, dan lihatlah! Indahkanlah pohon anggur ini, batang yang ditanam oleh tangan kanan-Mu” (Mzm 80:13-16)
Casino 4921b21658…
Casino 4921b21658…
Casino 4921b21658 — November 17, 2008 @ 11:08 am