Kasih, Motor untuk Berkorban
Setiap tahun kita merayakan Paskah,
yang bukan sekedar hari libur, hari raya dengan telur-telur Paskah, atau hanya
mengikuti tradisi gereja saja, namun memiliki makna yang lebih mendalam. Jika
pada orang Yahudi Paskah merupakan pembebasan, bagi kita Paskah juga merupakan
suatu pembebasan. Tetapi ada perbedaannya. Paskah orang Yahudi merupakan
pembebasan dari bangsa Mesir sedangkan Paskah orang Kristen merupakan
pembebasan dari dosa, dosa seluruh umat manusia. Paskah merupakan hal yang
sangat luar biasa karena diperlukan korban yang luar biasa pula untuk dapat
membebaskan kita semua dari dosa. Tidak sembarang anak domba yang dikorbankan
tetapi Anak Domba Allah, yaitu Yesus sendiri (bdk. I Kor 5:7; Yoh 1:36), yang merelakan diri-Nya untuk
dikorbankan. Yesus dengan rela (bukan dengan terpaksa) mengorbankan diri-Nya untuk mati di kayu salib karena cinta kasih-Nya terhadap Bapa yang mengutus
Dia dan kepada seluruh umat manusia. Karena pengorbanan Yesus kita diselamatkan
dari dosa yang membelenggu kita.
Kita tahu bahwa sebenarnya kitalah
yang membutuhkan Paskah, bukan Tuhan; karena kita manusia yang membutuhkan
penebusan dan keselamatan, bahkan sekarang dan yang akan datang. Lihat saja,
manusia masih saja jatuh ke dalam dosa. Kita dengan mudah melakukan dosa, entah
dosa yang kelihatan dan tidak kelihatan, dosa yang disengaja ataupun yang tidak
disengaja. Semakin jelaslah bahwa kita memang benar-benar membutuhkan
penebusan.
Kita dapat mengamalkan Paskah dalam
kehidupan sehari-hari, misalnya dengan rela berkorban. Jika Tuhan saja mau
merelakan diri-Nya dengan merendahkan diri menjadi manusia yang akhirnya mati
untuk menebus dosa manusia, kita pun juga harus dapat rela berkorban bagi
sesama kita. Jika kita menghayati makna Paskah, kita dapat melihat bahwa untuk
dapat rela berkorban dibutuhkan
suatu kasih yang tulus. Mari kita
sedikit mengingat suatu kisah dalam Injil Markus 12 di mana Yesus sedang duduk
di depan peti persembahan dan melihat janda miskin memberikan persembahan hanya
sebanyak dua peser namun merupakan keseluruhan dari nafkahnya, hartanya. Dalam
perikop tersebut kasih seorang janda
miskin kepada Allah yang mendorong dia rela untuk mengorbankan segala yang dimilikinya bagi yang dikasihinya. Janda
miskin itu menyatakan kasihnya kepada Allah dengan memberikan semua miliknya.
Jika janda miskin saja menyatakan kasihnya
dengan menyerahkan seluruh kepunyaannya bagi Allah, apa yang dapat kita lakukan
untuk Tuhan dan sesama setelah kita menerima kasih dan pengorbanan Tuhan di
kayu salib? Banyak yang dapat kita lakukan, misalnya kita yang sudah diberkati
secara materi, kita dapat menjadikan diri kita sebagai saluran berkat tersebut
bagi orang lain. Apabila kita diberikan talenta dalam bernyanyi dan bermusik kita
dapat memberkati orang lain dengan pujian-pujian yang kita nyanyikan dan dengan
permainan musik kita di dalam pelayanan di gereja atau pun di komunitas
tercinta, Ecclesia Christi. Tidak penting berapa banyak yang berikan bagi
sesama, yang terpenting adalah kerelaan kita untuk berkorban bukan karena
terpaksa dan bukan untuk dilihat oleh orang lain, namun untuk kemuliaan Allah.
Semoga dalam masa Paskah ini kita
dapat mengerti makna Paskah agar kita menjadi seorang yang seperti “adonan”
baru yang tak beragi yaitu kemurnian dan kebenaran dengan meninggalkan
sifat-sifat buruk kita (bdk. I Kor
5:7,8) yang rela memberikan apa yang kita
miliki (uang, tenaga, pikiran, dan talenta yang telah diberikan) bagi sesama
dan di dalam pelayanan di mana pun kita ditempatkan (gereja, persekutuan) dengan
kasih dan tulus ikhlas. Amin.
BèňZ